Philipp Lahm: Jika Bisa, Pep Guardiola Akan Memainkan 11 Andres Iniesta
Pep Guardiola hijrah ke Bundesliga untuk bergabung bersama Bayern Munich, setelah sempat menganggur selama satu tahun selepas pekerjaan yang luar biasa di Barcelona.
Tiga tahun di Bayern, Pep berhasil memenangkan tiga gelar Bundesliga, dua DFB-Pokals, satu UEFA Super Cup dan satu Piala Dunia Antarklub.
Keberhasilan tersebut tak lepas dari strategi favorit pria kelahiran Spanyol itu dengan gaya permainan tiki-taka, yang menjadi ciri khasnya selama di Barca.
Menurut Lahm, strategi tersebut tak lepas dari pengaruh Johan Cruyff terhadap ideologi mantan pemain Barca tersebut. Legenda Bayern tersebut juga menambahkan bahwa jika bisa, Guardiola akan memainkan 11 Iniesta di lapangan.
“Barcelona adalah tim yang sangat bagus, dengan hampir semua orang memainkan beberapa instrumen dengan baik. Ketika meerka memenangkan Liga Champions pada tahun 2009 dan 2011, Barca mencekik lawan mereka,”tulis Lahm untuk El Pais.
“Gaya itu dimungkinkan karena seluruh klub mengikuti ide Johan Cruyff tentang Total Football, dan Guardiola menanamkan dalam dirinya tradisi itu. Jika mereka membiarkannya, dia akan memainkan 11 Andres Iniesta.”
Lahm mengungkapkan bahwa sang manajer memiliki visi yang luar biasa dan menekankan bahwa kualitas individu menjadi salah satu kunci penting dalam sepak bola.
“Saya punya banyak kenangan bersama Pep Guardiola,” tambahnya. “Dia biasa berkata kepada saya, ‘dalam pertandingan penting, saya hanya memilih 11 pemain terbaik yang saya miliki’. Anda harus mendengarkan dengan cermat. Kalimat itu selalu mengandung kunci sepak bola, yakni kualitas individu.”
Kualitas Guardiola dalam meracik strategi tidak perlu diragukan lagi, – yang baru-baru ini berhasil membawa Manchester City melaju ke final Liga Champions – Lahm yang pernah merasakan magisnya mantan bos Barca itu sangat mengaguminya dengan menyebutnya seperti grandmaster catur atau konduktor orkestra.
Manajer The Citizens itu mampu memanfaatkan potensi masing-masing pemainnya dengan baik untuk membantu meningkatkan performa tim.
“Anda dapat membandingkan karyanya dengan seorang grandmaster catur atau konduktor orkestra yang menampilkan karya terbaik dari setiap instrumentalis.”
“Pelatih yang hebat langsung tahu apa yang bisa dilakukan setiap pemain dan siapa yang akan menjadi pemain sentralnya. Kemudian dia memberi tahu setiap pemain apa kekuatan dan kelemahannya, serta yang lainnya. Dia menyesuaikan tugas dan fungsi masing-masing pemain setiap harinya.”
“Inilah yang dilakukan Guardiola dengan semangat yang belum pernah saya lihat pada orang lain. Sampai semua orang, bahkan mereka yang tidak banyak bermain, menerima bahwa pelatih benar. Itu memberinya otoritas mutlak.”
Mantan pemain internasional Jerman itu menjelaskan bagaimana evolusi Guardiola selama bertahun-tahun, dengan memuji pemahamannya dalam strategi sepak bola, meski dia telah menangani tiga tim yang berbeda.
Namun pada dasarnya, bagi Lahm, setiap tim yang dia pimpin pasti menerapkan tiki-taka, tapi Guardiola selalu memberikan sentuhan berbeda di tim-tim yang berbeda pula.
“Di setiap klub, dia harus mengorbankan sedikit idealismenya. Di Bayern, dia membiarkan Franck Ribery dan Arjen Robben bermain di sayap, dan dua full-back membantu lini tengah saat mendapatkan bola.”
“City sekarang memainkan gaya yang lebih berhati-hati dan mengandalkan para bek jangkung yang mampu melakukan duel udara. Tim terkadang kehilangan bola, kemudian mundur untuk mempertahankan area mereka dan menunggu untuk melakukan serangan balik.”
“Pelatih telah belajar menikmati gol sederhana dari sepak pojok atau sepakan dari luar kotak penalti. Dia melihat itu dan menurut saya dia tertarik akan hal tersebut. Dia bukan hanya penggemar tiki-taka yang sangat menyerang.”